Senin, 08 September 2014

Pecinan Semarang Yang Selalu Ramai

Posted by Dina Cahyaningtyas in ,


Di masa lalu, Semarang merupakan tempat bertemunya beragam budaya yang jejaknya masih dilihat sampai sekarang. Jika kota lama memiliki nafas atau nuansa kebudayaan Eropa yang kental, di daerah Kauman, kita bisa merasakan suasana budaya Timur Tengah dan Gujarat. Sedangkan di Pecinan, seperti namanya, terdapat gurat jelas jejak dari budaya Tiongkok.

Daerah Pecinan dan Kauman terletak berdampingan, dan sampai sekarang masih ramai serta tetap digunakan untuk kawasan dagang. Di tempat ini, kita bisa menemukan banyak bangunan lama yang berdiri berimpitan, bahkan menyatu antara satu dengan yang lainnya. Walau pun beberapa gedung telah ditinggalkan, tapi banyak juga warga keturunan tionghoa yang tinggal di sana. Kebanyakan berdagang meski tak memungkiri ada juga bekerja di tempat lain.

Selain sebagai kawasan perdagangan, kawasan pecinan juga memiliki beberapa kelenteng. Yang paling terkenal adalah kelenteng Tay Kak Sie yang ada di kawasan pekojan, masuk ke dalam gang Lombok. Sesudah kepindahan warga tionghoa dari simongan, tempat di mana kelenteng Sam Poo Kong berada, Tay Kak Sie didirikan di kawasan pecinan Semarang. Salah satu sebabnya adalah untuk memudahkan peribadatan masyarakat tionghoa waktu itu.

Di era masa kekuasaan Belanda, dulunya kaum tionghoa tidak berada di kawasan pecinan, yang berada di dekat kota lama, melainkan berada di daerah simongan. Simongan terletak di tepi sungai Semarang atau yang sekarang dikenal sebagai kali banjir kanal barat. Di sana merupakan lokasi strategis karena berada di teluk yang menjadi banda besar dengan nama Pragota.

Namun, pada tahun 1740, pemberontakan Cina terhadap pendudukan Belanda yang terjadi di Batavia merembet hingga Semarang. Di sini pun terjadi perlawanan antara masyarakat tionghoa terhadap Belanda, tapi berhasil ditumpas oleh pihak Belanda. Karena itu, untuk memudahkan pengawasan terhadap kaum tionghoa, Belanda pun sengaja memindahkan mereka ke kawasan pecinan yang ada sekarang ini.

Sekarang, setelah jaman kemerdekaan, kawasan ini tetap ramai sebagai kawasan perdagangan. Kita bisa menjumpai toko kain (yang paling terkenal adalah toko jangkrik), toko barang-barang atau alat-alat rumah tangga, toko emas-emasan, sampai toko obat cina seperti klinik pancawarna. Ada juga pasar semawis yang buka tiap hari jum’at, sabtu, minggu, pukul 6 sore sampai malam. Di sini, kita bisa mencicipi kuliner di salah satu jalan di pecinan. Pasar kuliner ini dibuka hampir di sepanjang jalan tersebut dan banyak jenis-jenis makanan yang bisa kita coba.
Copyright © Andre Derabal | Powered by Blogger