Tampilkan posting dengan label Wisata. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Wisata. Tampilkan semua posting

Senin, 13 Juli 2015

Telaga Sarangan

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,


Magetan terkenal dengan tempat wisatanya yaitu telaga sarangan. Menurut penduduk sekitar sarangan, telaga sarangan juga sering disebut sebagai telaga pasir, karena tempat itu dipercaya sebagai tempat tinggal kyai dan nyai pasir. Dipercaya, pulau yang ada di tengah telaga tersebut adalah tempat bersemayamnya roh leluhur pencipta Telaga Sarangan, yaitu Kyai Pasir dan Nyai pasir.

Menurut legenda, telaga serangan terbentuk karena tindakan kyai dan nyai pasir ini. Kedua pasangan itu bertahun-tahun hidup berdampingan tetapi belum dikaruniai seorang anak. Lalu untuk mendapatkan keturunan, Kyai dan Nyai Pasir bersemedi dan memohon kepada Sang Hyang Widhi. Setelah mereka melakukan semedinya itu akhirmya mereka pun mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Joko Lelung. Agar keluarga itu bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, sehari-hari mereka bercocok tanam dan berburu. Karena menurut mereka pekerjaan yang di kerjakan itu sangatlah berat, maka pasangan ini memutuskan untuk bersemedi lagi untuk memohon kesehatan dan panjang umur kepada Sang Hyang Widhi.

Dalam semedinya kali itu, pasangan suami tersebut mendapatkan wasiat agar keinginannya bisa terwujud, pasangan ini harus dapat menemukan dan memakan telur yang ada di dekat ladang mereka. Akhirnya pasangan suami istri itu berhasil menemukan telur itu dan langsung di bawa pulang dan memasaknya. Lalu telur yang sudah matang itu dibagi untuk keduanya. setelah memakannya pasangan itu merasakan panas dan gatal di seluruh tubuhnya setelah ia pergi ke ladangnya. Pasangan suami itu terus menggaruk tubuhnya yang terasa gatal hingga menimbulkan luka lecet di seluruh tubuh mereka.

Lama kelamaan keduanya berubah menjadi ular naga yang sangat besar. Lalu kedua ular tersebut berguling-guling di pasir sehingga menimbulkan cekungan yang kemudian mengeluarkan air yang sangat deras dan menggenamgi cekungan yang di buat oleh ular naga tersebut. Akhirnya pasangan tersebut menyadari kemampuan yang mereka miliki, mereka berniat untuk membuat cekungan yang banyak untuk menenggelamkan Gunung Lawu. Mengetahui kedua orang tuanya tiba-tiba berubah menjadi naga dan memiliki niat yang buruk, maka anaknya yaitu Joko Lelung pun juga bersemedi memohon agar niat kedua orang tuanya tersebut dapat digagalkan, dan semedi Joko Lelung pun diterima oleh Hyang Widhi. Saat keduan orang tuanya sedang berguling-guling membuat cekungan baru, lalu timbul wahyu kesadaran agar Kyai dan Nyai Pasir mengurungkan niat mereka untuk menenggelamkan Gunung Lawu.

Seperti itulah cerita singkat mengenai telaga sarangan. Selain telaga sarangan, kabupaten magetan sebenarnya juga memiliki tempat wisata lainnya seperti air terjun tirtasari, telaga wahyu, pemandian dewi sri, bumi perkemahan mojosemi, air terjun watu ondo, argo dumilah, air terjun jarakan, candi reog, candi simbatan, taman ria maospati, dan lain-lain. Referensi tempat wisata oleh travelensia.com

Jumat, 03 Oktober 2014

Mengenal Kabupaten Magetan

Posted by Dina Cahyaningtyas in , , ,


Magetan yang tenang dan jarang terdengar geliatnya. Tak disangka, kabupaten tersebut menyimpan peninggalan-peninggalan sejarah zaman dulu. Peninggalan-peninggalan tersebut ditemukan di desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan, di desa Cepoko Kecamatan Panekan. Di makam Sonokeling desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan terdapat sebuah makam yang membujur kearah utara selatan. Batu nisan sebelah berukuran lebar 34 cm, tebal 26 cm, tinggi 66 cm yang bahannya terbuat dari batu andezit dimana bentuk tulisannya diperkirakan berasal dari sekitar abad 9.

Di dukuh Sadon desa Cepoko kecamatan Panekan terdapat Kalamakara dengan reruntuhan batu lainnya yang bahannya juga dari batu andezit. Berdasarkan hal tersebut terdapat kemungkinan dipersiapkannya pendirian bangunan candi. Pada reruntuhan batu yang terletak dibawah makara terdapat tulisan yang tidak terbaca karena sudah rusak, dari bentuk tulisannya dapat diperkirakan bahwa peninggalan tersebut dari jaman Erlangga (Kediri). Reruntuhan tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan nama Dadung Awuk.

Ditempat lain juga terdapat peninggalan-peninggalan yang lain seperti di puncak gunung Lawu wilayah kabupaten Magetan yaitu peninggalan yang berbentuk Pawon Sewu (candi pawon) atau punden berundak yang diperkirakan sebagai hasil budaya jaman Majapahit. Demikia juga di lereng gunung Lawu terdapat peninggalan candi Sukuh dan candi Ceto. Adanya peninggalan-peninggalan tersebut sesuai dengan perkembangan di akhir kerajaan Majapahit, dimana waktu itu banyak rakyat dan kalangan keraton yang meninggalkan pusat kerajaan dan pergi ke gunung-gunung dalam usaha mempertahankan kebudayaan dan agama Hindu termasuk gunung Lawu kabupaten Magetan.

Dengan data-data tersebut diatas penting sekali bahwa warisan-warisan leluhur dan latar belakang sejarah Kabupaten Magetan itu terus dipepetri sehingga tetap mempunyai nilai, arti dan jiwa pendorong semangat demi suksesnya pembangunan yang semakin berkembang.

Jumat, 26 September 2014

Mengunjungi Solo (2)

Posted by Dina Cahyaningtyas in , , , ,

Yeaay..., ayo kita lanjut pembicaraan soal Solo lagi. Nah, apa sih yang kalian ingat kalau mendengar kata Solo? Pak Jokowi? Bisa. Apalagi hayo? Bengawan Solo? Masuk! Terus, terus..., Stasiun Balapan? Oke deh. Daaan..., Solo Batik Carnival serta Pasar Klewer? Yoaa!



SBC atau kepanjangan dari Solo Batik Carnival merupakan sebuah event tahunan yang sering diselenggarakan oleh pemerintah Kota Solo. Event ini menampilkan pagelaran para peserta yang menggunakan berbagai kostum meriah yang terbuat dari batik. Tentu saja, dalam setiap event-nya, SBC menggunakan tema yang berbeda-beda. Seperti ketika tahun 2011, SBC memakai tema Keajaiban Legenda, di tahun 2012 menggunakan tema Metamorfosis. Setiap peserta SBC merupakan warga kota Surakarta dan mendapat pelatihan serta workshop selama 4 bulan dalam tiap kegiatan ini.

Bicara mengenai SBC alias Solo Batik Carnival, tentunya langsung mengingatkan kita pada Batik, bukan. Yah, kain bercorak khusus yang kini mendunia ini, merupakan bahan dasar dalam pembuatan kostum di SBC. Jika setelah melihat SBC, Anda tertarik untuk membeli batik, maka datang saja ke Pasara Klewer. Di sana, Anda bisa membeli batik dengan harga murah dan banyak. Namun, tentu harus diingat, ada harga, ada rupa. Semakin murah harga batiknya, anda pun harus semakin teliti memerika kualitas batik tersebut.



Ada pun tempat lain yang bisa dijadikan destinasi tempat wisata di daerah Solo, yaitu Tawangmangu (berada di timur kota Solo, di Karanganyar), kawasan wisata Selo (berada di barat kota Solo, di Boyolali), agrowisata kebun teh Kemuning, Air Terjun Jumog, Air Terjun Parang Ijo, Air terjun Segoro Gunung, Grojogan Sewu, dan lain-lain. Selain itu di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu, terdapat beberapa candi peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha, seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Monyet, dll. Selain itu tidak jauh dari Solo juga dapat ditemui Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, Candi Kalasan, dan di Yogyakarta terdapat Candi Sambisari, Candi Kalasan, dan Candi Sari.

Mengunjungi Solo (1)

Posted by Dina Cahyaningtyas in , , , , ,

Solo dan Yogyakarta, keduanya merupakan daerah di mana kebudayaan jawanya masih terasa kental. Di kedua daerah itu pula, sejarah masa lampau, yaitu berupa Keraton masih bisa dilihat dan dikunjungi. Solo atau Surakarta..., kalau ingat dengan kota ini, entah kenapa yang terpikir adalah nasi liwet, timlo, dan serabi notosuman. Lah..., efek kalau tengah malam lapar itu ternyata bisa juga bermacam-macam, ya, hehehe....


Kuliner di Solo yang pernah saya cicipi adalah timlo dan serabi notosumannya saja. Kalau untuk nasi liwet, kayaknya pernah, tapi seingatan saya, sepertinya belum pernah makan, deh. #hlah. Timlo itu mirip soto, tapi kalau menurut saya sih lebih mirip seperti sup. Kuahnya jernih dan agak kekuningan, rasanya sedikit tajam, dan diisi dengan sayuran dan daging semacam bihun, ayam, jamur, wortel, ataupun kembang tahu. Makanan ini menyegarkan dan menghangatkan. Jika tidak suka dengan sejenis sup atau soto, Nasi Liwet mungkin bisa jadi alternatif saat kulineran di kota ini. Saat lewat di sini, saya sering melihat deretan pedagang kaki lima menjajakan nasi Liwet di sepanjang jalan.


Nasi Liwet dimasak dengan santan dan bumbu tanpa proses pengukusan di dandang, sehingga hasilnya adalah nasi putih yang lebih lembek dan harum. Nasi mirip seperti bubur tapi bukan bubur. Untuk penyajiannya biasanya dipakai pincuk (piring dari daun pisang), dengan lauk gulai labu siam, telur rebus atau telur dadar, suwiran ayam opor, dan potongan ati-ampela ayam, ditumpangi kepala santan atau santan kental yang disebut areh. Pendamping wajib dari nasi liwet biasanya rambak atau krupuk kulit.


Kalau untuk urusan cemilan, kita bisa membeli serabi notosuman yang sudah terkenal rasany yang enak dan gurih. Ada dua jenis serabi notosuman, yang putih dan satu lagi ada taburan cokelat mesesnya. Kita bisa memesan salah satunya atau minta campurannya. Makan 3 – 4 potong serabi biasanya sudah membuat kenyang, lho. Jadi, kalau sudah makan malam dan ingin menikmati serabi notosuman, harus dikira-kira berapa banyak yang mau dimakan supaya nggak kekenyangan. Next, ayo kita bahas mengenai event atau kesenian apa saj ayang ada di Solo :D

Kamis, 25 September 2014

Berwisata di Pekalongan

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,

Pekalongan terkenal dengan industri batiknya. Mudah bagi kita untuk menemukan sentra-sentra kerajinan batik di kota ini. Selain itu, kota ini pun berada di kawasan jalur pantura, sehingga lalu lintasnya pun ramai. Selain pantai, Pekalongan pun memiliki destinasi wisata lain yang letaknya di daerah lereng gunung, seperti ekowisata Petungkriyono.


Petungkriyono merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan, berlokasi di lereng Gunung Ragajambangan pada ketinggian 900-1600 mdpl. Wilayah ini merupakan kawasan sejuk dengan panorama pegunungan yang indah, sehingga cocok untuk tempat berwisata. Dari pusat Kabupaten Pekalongan, Petungkriyono berjarak 30 km dan dapat dicapai dengan kendaraan umum. Sebagai kawasan ekowisata, Petungkriyono merupakan lokasi yang memberikan banyak pilihan untuk memenuhi hasrat berwisata alam. Di kawasan ini pengunjung dapat memperoleh pengalaman melakukan penjelajahan alam dan kegiatan outbound.

Ada lagi Curug Muncar dan Curug Cinde, di mana Curug Muncar masih berada di sekitar kawasan lereng Gunung Ragajambangan, sedangkan Curug Cinde terletak di desa depok kecamatan Lebakbarang. Ada juga Wisata Watu Ireng dang Wisata Alam Lolong, yang masing-masing memiliki cirinya sendiri-sendiri. Seperti Watu Ireng yang memang benar-benar batu hitam besar dengan bagian dalam yang diperkirakan berongga.

Nasi Megono Pekalongan

Posted by Dina Cahyaningtyas in , , ,



Pekalongan sangat terkenal dengan nasi megononya. Nasi Megono sendiri itu apa sih? Sebenarnya sederhana, Nasio megono merupakan nasi yang diberi taburan nangka muda rebus yang telah diurapi dengan parutan kelapa serta bumbu-bumbunya. Megono berasal dari kata ‘mergo’ atau sebab dan ‘ono’, artinya ada.  

Bahan dasar nasi megono adalah nangka muda dan kelapa. Jika nangka sulit dapat, biasanya digunakan rebung sebagai penggantinya. Nangka muda dicacah hingga kecil-kecil kemudian direbus. Setelah matang dicampur dengan bumbu urap yang terdiri dari parutan kelapa dan bumbu dapur yang dihaluskan seperti bawang putih, bawang merah, cabe, jeruk purut, kencur dan garam. Menghidangkannya cukup sederhana, yaitu nasi putih langsung diberi taburan megono. Dulunya, sebelum nasi megono populer, makanan ini hanya bisa ditemukan di warung-warung makan kelas menengah ke bawah di sepanjang pekalongan hingga batang.


Selain Nasi Megono terdapat juga pindang tetel. Pindang tetel merupakan sayur berkuah berisi tetelan daging sapi dan irisan daun bawang dengan bumbu pindang, yaitu rempah-rempah bercampur kluwak. Makanan ini biasanya disajikan dengan kerupuk pasir, yaitu kerupuk yang digoreng dengan pasri. Jika disajikan dengan kerupuk yang digoreng dengan minyak, dikhawatirkan akan merusak cita rasa dari pindang tetel ini.

Kemudian, ada lagi soto berbumbu tauco, namanya kalau tidak salah tauto. Soto asal Pekalongan yang satu ini menggunakan tauco manis sebagai bumbu dengan isian daging sandung lamur, telur rebus, dan tak lupa emping. Penyajian tauto seperti soto-soto kebanyakan, nasi dengan bihun, daun bawang, lalu disiram dengan kus soto. Setelah itu baru disiram dengan dengan tauto nya, yaitu kedelai yang telah dimasak dan dihaluskan. Dengan tambahan bumbu kedelai ini, kuahnya bertambah harum dengan cita rasa yang khas.

Selasa, 23 September 2014

Mungkin tidak banyak orang yang tahu mengenai museum djamoe Nyonya Meneer yang ada di daerah kaligawe, berseberangan dengan kampus UNISSULA. Museum ini merupakan museum jamu pertama di Indonesia, yang didirikan pada 18 Januari 1984. Tujuan didirikannya museum jamu ini yaitu sebagai cagar budaya untuk melestarikan warisan budaya leluhur sehingga dapat menjadi media edukasi serta rekreasi untuk generasi muda.
Museum Jamu Nyonya Meneer ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu barang koleksi pribadi Nyonya Meneer dan replika peracikan serta pembuatan jamu secara tradisional. Pada bagian koleksi pribadi Nyonya Meneer, kita dapat melihat foto Nyonya Meneer, koleksi alat-alat yang digunakan Nyonya Meneer pada masa lalu, tempat jamu dari kuningan, dan berbagai koleksi lainnya yang menarik.
Sedangkan pada bagian pembuatan jamu tradisional, kita akan disuguhi mengenai produktivitas jamu, menyangkut produktivitas secara tradisional, termasuk beberapa patung yang menggambarkan produksi jamu dikala itu, serta bagian yang menyajikan barang koleksi pribadi Nyonya Meneer itu sendiri.
Bangunan museum Nyonya Meneer ini menganut gaya rumah jawa. Aksen terasa sekali ketika kita berada di dalam museum. Sekilas, kita akan merasakan suasana pendopo seperti di keraton. Aksen kayu banyak ditemui di setiap sudut ruangan, begitupun dengan perabot seperti lemari, meja, dan lain sebagainya.
Museum ini terbuka untuk umum, bisa datang langsung ke lokasi di atas, namun jika akan datang berkelompok dengan jumlah lebih dari 25 orang diharapkan menghubungi terlebih dahulu 1 minggu sebelumnya. Museum ini buka dari hari Senin-Jumat, pukul 10.00-15.30 WIB. 

Teluk Penyu

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,

Pantai teluk penyu merupakan salah satu pantai indah di kota Cilcap. Dulunya, di tempat ini terdapat banyak penyu yang hidup dan berkembang biak, sehingga pantai ini dikenal dengan nama teluk penyu. Sayangnya, sekarang penyu-penyu itu sudah jarang terlihat karena adanya lalu lintas kapal pertamina yang membuat penyu-penyu tersebut tidak mau datang kembali ke sana.

Lokasi Teluk Penyu mudah dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jarkanya sekitar 2 KM dari kota Cilacap ke arah Timur. Pantainya cukup luas, membentang dari utara sampai selatan sekitar 14 hektar dengan hamparan pasir yang luas serta udara sejuk dan ombak pantai selatan yang cukup keras. Tak jauh dari teluk penyu tersebut, kita pun bisa melihat pulau Nusakambangan yang biasanya identik dengan tempat buangan bagi narapidana khusus.

Selain melihat keindahan bentangan pantainya, kita pun bisa memancing atau pun jalan-jalan ke pulau Nusakambangan yang memiliki pantai pasir putih. Hanya dengan naik perahu sewaan yang harganya sekitar 10 ribu – 15 ribuan (karena bbm sekarang mau naik, jadi kemungkinan besar ongkosnya pun bisa naik)/ orang, kita bisa sampai di pantai pasir putih Nusakambangan. Kalau sudah capek berwisata di sana, ada banyak warung-warung makan di sekitar sana yang bisa dicicipi. Ada juga kios-kios suvenir untuk membeli oleh-oleh di sana.

Senin, 22 September 2014

Rumah Cokelat?

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,
Siapa sih yang tidak kenal cokelat? Makanan yang diolah dari biji kakao ini sangat terkenal dari kalangan anak-anak sampai orang tua. Hampir semua orang suka dengan cokelat. Hampir semua, lho, tidak semua. Makanan yang satu ini memang jadi favorit orang-orang, terutama anak-anak. Selain bisa dicampur di beberapa makanan, manisnya juga disukai oleh anak-anak. Padahal, nyatanya, cokelat asli itu rasanya pahit sekali, lebih pahit dari brotowali kali ya. Dark cokelat yang 80% mengandung kakao saja tidak bisa dimakan secara langsung karena rasa pahitnya yang luar biasa. (Iyalah, lha wong itu, kan, harus diolah lagi untuk bisa dimakan).

Cokelat memiliki beragam macam khasiat. Sekarang tidak hanya dipakai untuk makanan saja, tetapi juga menjadi campuran dalam produk-produk kecantikan yang bisa dipakai oleh kaum hawa dengan bau harum cokelat yang memikat. Nah, olahan-olahan cokelat ini, entah itu makanan atau produk kecantikan mungkin sudah biasa kita temui. Tapi, pernahkah kalian mendengar nama rumah cokelat? Jangan bilang kalau itu cuma rumah yang dicat warna cokelat.

Nggak! Bukan itu maksudku. Tapi, benar-benar rumah cokelat, rumah yang menyediakan berbagai jenis penganan dari cokelat dan kebanyakan cokelat yang dibuat itu dark cokelat. Bagi kalian yang tidak suka dengan cokelat yang terlalu manis, yang beredar di pasaran, kalian mungkin bisa mencoba cokelat-cokelat yang disediakan di rumah cokelat. Variasinya ada banyak, kok. Mulai dari cokelat berisi kacang almond, cokelat rasa durian, green tea, jahe, ada banyak rasanya dan yang paling penting, rasa manisnya pas! Tidak terlalu manis.



Selain cokelat, rumah cokelat yang bertempat di kawasan pleburan barat itu pun ternyata juga buka kafe dengan menu-menu restoran ala barat, juga ada cake dan es krim yang bisa kita cicipi. Harga untuk makanannya bervariasi, atara 10 ribu sampai 20 ribu. Untuk makanan baratnya, berkisari antara 20 – 40 ribuan, sedangkan minumannya ada di atas 10 ribuan. Bisa dibilang, harganya lumayan bersaing dengan rasa yang tidak kalah dengan restoran lainnya.

Tidak sulit mencari restoran yang menyediakan menu ala barat atau sebut saja western food. Sekarang, begitu mudah bagi kita untuk menemukan makanan-makanan ala barat di restoran-restoran yang ditemui. Kebanyakan yang disediakan semacam pasta, seperti spaghetti, chicken cordon bleu, maupun olahan daging lainnya yang berasal dari dagi sapi. Harga pun bervariasi, dari yang murah sampai mahal sekalipun.

Nah, apa bedanya restoran yang satu ini dengan restoran lain? Kalau saya pribadi, tidak suka menyebut tempat ini sebagai restoran. Saya lebih suka menyebutnya sebagai warung makan, warung makan yang tidak biasa! Karena makanan yang disajikan menu makanan ala barat semua. Sama sekali tidak ada menu dalam negeri di sana, kecuali ehm... nasi putih saja.

Di sini, kita bisa mencicipi berbagai menu ala barat. Walau menu makanan di daftar menunya tidak banyak, tetapi kebanyakan rasa makanan di sana memuaskan. Yah..., yang patut disesalkan cuma satu, sekarang harganya makin mahal, hihihihi. Chicken cordon bleu yang awalnya sekitar 20-an, sekarang mencapai 28-an dan olahan daging lainnya (daging yang digunakan benar-benar daging –apa pulak isitilah ini- dan cukup tebal, sehingga makan satu saja bisa bikin perut kenyang) harganya di atas 30 ribu. Walau begitu, sekali mencicipi makanan di sini pasti tidak akan merasa rugi, karena rasanya memang enak dan mengenyangkan.

Jika tidak suka dengan daging, kita bisa pesan pasta. Ada fettucine dan spaghetti, baik itu dengan saus carbonara atau pun bolognaise. Kalau saya usulkan, jika kalian tidak kuat asamnya bolognaise, lebih baik pilih yang carbonara. Di sini carbonaranya enak dan kejunya pun lumayan banyak. Ada pilihan lain selain pasta, yaitu sup atau kalau lidah jawa bilang sop. Sopnya enak, sih, sayurnya pun besar-besar juga dagingnya. Di antara semua makanan, sop-lah yang paling murah. Kisaran harganya antara 10 ribu – 15 ribuan.

Mau coba menu ala baratnya? :D

Jumat, 19 September 2014

Wedang Nikmat Nan Hangat

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,

Jika udara sedang dingin memakan sesuatu yang hangat atau panas tentu terasa enak. Sama juga ketika tidak enak badan, meminum cairan yang hangat dan panas biasanya membuat badan terasa lebih enak. Namun, beda cerita kalau musim panas minum-minuman panas seperti ini. Biasanya itu akan membuat badan jadi terasa panas sekaligus keringetan, tapi efeknya, badan jadi terasa segar.

Ada berapa banyak wedang yang kalian kenal? Apa cuma wedang ronde saja? Atau wedang teh atau kopi saja? :))))

Kalau dipikir-pikir, kita ini memang benar-benar bangsa yang kaya raya, ya. Dari kuliner, seni, penduduk, alam, kita memiliki segala sesuatu dengan melimpah ruah. Ada berbagai jenis wedang yang kita punya, mulai dari Wedang ronde, wedang jahe, wedang kacang tanah, wedang roti, bajigur, teh uwuh, dan lain sebagainya. Kebanyakan wedang memakai bahan dasar jahe untuk pembuatannya, tetapi ada juga yang tidak, seperti wedang roti yang menggunakan kuah santan panas. Teh uwuh juga tidak, karena menggunakan bahan dasar teh.

Selain dinikmati sebagai minuman, wedang-wedang ini, utamanya wedang jahe ternyata memberikan manfaat untuk tubuh. Seperti misalnya menghilangkan stress, mengatasi masalah pencernaan, melancarkan peredaran darah, meningkatkan kekebalan tubuh, serta mengatasi masalah pencernaan dan meningkatkan nafsu makanan. 

Kamis, 18 September 2014

Masjid Mantingan Jepara

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,


Keberadaan Masjid Mantingan tak bisa dilepaskan dari kota Jepara, Ratu Kalinyamat, serta Sultan Hadiri. Masjid Mantingan merupakan masjid kedua setelah masjid agung Demak, yang dibangun pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 Masehi berdasarkan petunjuk dari condo sengkolo yang terukir pada sebuah mihrab Masjid Mantingan berbunyi “RUPO BRAHMANA WANASARI” oleh R. Muhayat Syeh Sultan Aceh yang bernama R. Toyib.

 

Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan di Aceh ini menimba ilmu ke tanah suci dan negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islam, dan karena kemampuan dan kepandaiannya pindah ke tanah Jawa (Jepara). R. Toyib menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) putri Sultan Trenggono Sultan kerajaan Demak, yang akhirnya beliau mendapak gelar “SULTAN HADIRI”, sekaligus dinobatkan sebagai Adipati Jepara (Penguasa Jepara) sampai wafat dan dimakamkan di Mantingan Jepara.


Di makam, selain Pangeran Hadiri (Sunan Mantingan), Ratu Kalinyamat, Patih Sungging Badarduwung seorang patih keturunan cina yang menjadi kerabat beliau Sultan Hadiri bernama CIE GWI GWAN dan sahabat lainnya disemayankan. Makam selalu ramai dikunjungi terutama pada saat “KHOOL” untuk memperingati wafatnya Sunan Mantingan berikut upacara “ GANTI LUWUR “.

Ganti Kelambu ini diselenggarakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 17 Robiul Awal sehari sebelum peringatan Hari Jadi Jepara. Makam Mantingan sampai sekarang masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya.

Museum Kereta Api Ambarawa

Posted by Dina Cahyaningtyas in , , ,


Sebelum menjadi tempat wisata, museum kereta api Amabarawa merupakan sebuah stasiun kereta api. Stasiun tersebut sengaja dibangun, atas perintah Raja Willem I, untuk keperluan menganngkut tentara Belanda pada masa kolonial. Kemudian tahun 1976, Stasiun Ambarawan diubah menjadi tempat melestarikan lokomotif Uap.

Di Museum ini, ada berbagai macam lokomotif-lokomotif tua yang masih terlihat baik, bahkan dua diantaranya masih bisa dipakai sebagai kereta api wisata. Kedua kereta itu tak lain adalah lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen. Rute wisata yang dilayani oleh kereta wisata adalah Ambarawa Bendono dan Ambarawa Tuntang dengan kapasitas 15-20 orang. Sepanjang perjalanan para pengunjung bisa menikmati hijaunya alam Ambarawa. Perlu diperhatikan, kereta wisata hanya akan beroperasi bila jumlah peserta wisata mencapai jumlah tertentu atau melayani romobongan dengan sistem sewa per gerbong.


Selain kereta api wisata, kita juga bisa melihat-lihat isi museum. Tempatnya cukup rapi dan nyaman dengan bagian peron yang besar dan luas. Ada begitu banyak lokomotif-lokomotif tua yang terparkir sekitar halaman museum. Di sini, kita juga bisa mengenal sejarah dari lokomotif-lokomotif tersebut. Bagi yang suka berjalan-jalan sambil menimba ilmu, museum kereta api sangat cocok untuk didatangi dan dilihat seperti apa tempatnya. Biaya masuknya juga cukup murah dan terjangkau, kok.

Rabu, 17 September 2014

Nasi Ayam

Posted by Dina Cahyaningtyas in ,

Kalau mendengar Nasi Ayam, mungkin yang terpikir sekilas hanyalah nasi dengan Ayam. Namun, tidak. Nasi ayam tidak seperti itu. Nasi Ayam, menu kuliner khas Semarang, memiliki kemiripan dengan nasi liwet Solo yang nyaris sulit dibedakan. Sama-sama  menggunakan nasi gurih dan disajikan dengan opor serta sayur labu siam. Namun, ada beberapa perbedaan yang bisa kita lihat antara nasi liwet Solo dengan nasi ayam Semarag. Kita bisa melihat dari ayam, sayur labu dan juga arehnya.

Ayam opor pada Nasi Liwet Solo berwarna putih, tidak memiliki kuah atau hanya dimasak kering, sedangkan pada Nasi Ayam Semarang, ayam opornya mempunyai warna lebih kuning, diberi kuah sedikit saat penyajian setelah disiram menggunakan sayur labu sebelumnya.

Kemudian, sayur labu ppada Nasi Liwet Solo dimasak menggunakan santan dan memiliki rasa yang pedas serta lebih berkuah dan memiliki warna yang pucat, sedangkan pada Nasi Ayam Semarang, sayur labu juga dimasak dengan santan, namun rasa pedas lebih terasa dan mempunyai kuah yang lebih sedikit dan warna yang lebih gelap.

Areh pada Nasi Liwet Solo dibuat dari bahan santan yang kental yang sudah menggumpal, sedangkan areh pada Nasi Ayam Semarang mempunyai warna lebih kuning, karena diambil dari kuah opor pada bagian atasnya saja, karena pada bagian atas lebih kental. Nasi Ayam ala Semarang merupakan menu khas yang bisa Anda dapatkan pada beberapa penjual di Waroeng Semawis, yang menjadi menu kuliner andalan kota Semarang atau di sebuah warung yang ada di area gang di jalan gajah mada, gang yang berada dekat dengan swiss house gajah mada.

Kerbau dan Garang Asem : Nikmat dan Segar.

Posted by Dina Cahyaningtyas in ,
Kudus, kota jenang, terkenal pula dengan makanan olahannya yang terbuat dari daging kerbau. Hal itu tak bisa lepas dari sejarah penyebaran agama Islam di Kudus sendiri. Yang mana, pada waktu itu, ketika Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di tanah kudus, beliau melarang bagi umat islam di sana untuk menyembelih sapi. Hal itu tak lain untuk menjaga perasaan masyarakat hindu yang hidup berdampingan dengan kaum muslim. Akhirnya, jadilah kerbau yang disembelih oleh kaum muslimin pada waktu itu. Salah satu contoh olahan dari daging kerbau ini adalah pindang maupun soto kerbau.




Kita tahu sendiri, kerbau merupakan binatang pekerja yang di masa itu dimanfaatkan untuk membajak sawah. Bisa dibayangkan bagaimana alotnya daging kerbau ini kalau dimakan, kan? Namun nyatanya, bila diolah dan dimasak secara khusus, daging kerbau pun akan jadi empuk dan enak dimakan, seperti daging sapi. Sepiring pindang kerbau di sini enak dan sedap dimakan. Harganya pun bisa dibilang murah. Jangan sungkan untuk mencicipi enaknya pindang atau soto kerbau ketika berkunjung ke kota kudus.


Selain pindang kerbaunya, di Kudus pun ada kuliner lainnya yang bernama Garang Asem. Apa itu Garang Asem? Sejenis makanan yang terbuat dari ayam atau daging dan bumbu-bumbu yang dimasak dengan cara dikukus dengan memakai daun pisang sebagai pembungkusnya. Garang Asem sangat segar dan nikmat. Bumbu-bumbunya ada yang dibuat dengan ditumbuk, ada juga yang diiris-iris dan sangat banyak. Sedangkan untuk garang asem yang pernah saya coba di Kudus, bumbunya dipotong-potong dan sangat banyak. Bau makanan ini pun harum dengan kuah santan yang encer.


Makanan ini sangat nikmat bersama nasi hangat. Rasa segar maupun gurihnya. Satu bungkus garang asem berisi beberapa potong bagian ayam, jadi kemungkinan besar gak akan habis dimakan satu orang.

(Foto diambil dari berbagai sumber)

Selasa, 16 September 2014

Komunitas Buku Yang Menguntungkan

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,
Goodreads merupakan sebuah wadah media sosial bagi para pecinta buku. Dengan mendaftar di situs goodreads.com maka kita sudah bisa menjadi member sekaligus anggota Goodreads. Untuk para member, disediakan banyak fasilitas yang berkaitan dengan dunia perbukuan, seperti membuak rak buku sendiri, me-rate buku, mereview, maupun berdiskusi dengan sesama anggota grup.


Di dalam Goodreads, anggotanya menyeluruh dari segala penjuru. Namun, ada juga grup-grup besar per Negara yang kemudian bercabang ke grup-grup regional yang lebih kecil lagi. Seperti Grup Goodreads Indonesia yang terbentuk sekitar tahun 2006 atay 2007 dan bercabang menjadi regional-regional kecil seperti Goodreads regional Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan lain-lain.

Dalam komunitas pecinta buku ini, kita bisa berinteraksi dengan sesama anggota, membahas mengenai berbagai jenis genre buku, atau pun jika kita penulis, kita pun bisa membuat promosi buku kita dengan mengirimkan salah satu buku yang kita buat ke anggota Goodreads. Dengan begitu, buku kita bisa di-review oleh anggota Goodreads dan mendapat rating. Namun, bersiap-siaplah dengan bermacam tanggapan dari pembaca, karena tidak semua pembaca menanggapi secara positif buku kita.


Sebagai wadah pecinta buku, Goodreads juga bisa menjadi ajang narsis/pamer ke media sosial lainnya, karena Goodreads bisa tersambung ke twitter dan Facebook kita, sehingga apa yang kita kerjakan di goodreads, semisal membaca buku baru, memberikan review, atau memberikan rate pada suatu buku akan di-update pada buku tersebut. Selain itu, antar anggota goodreads, utamanya yang di wilayah, maka kita juga bisa saling pinjam-meminjam buku. Tapi ingat, untuk menjaga dan merawat baik-baik buku pinjaman tersebut. Jadi... jangan rugi untuk ikut gabung dengan komunitas ini.

Legenda Di Balik Pesona Rawa Pening

Posted by Dina Cahyaningtyas in ,


Rawa Pening merupakan sebuah danau di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Danau ini tepatnya berada di cekungan antara Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Danau ini terletak di sekitar Salatiga serta Ambarawa. Luasnya sekitar 2.6 Ha. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sana menggantungkan hidup di danau ini. Ada yang membuka keramba ikan, atau memanfaatkan keindahan danau sebagai tempat wisata, ada pula tempat wisata rawa pening yang bisa dipakai untuk berenang.


Menurut Legenda, Rawa Pening terbentuk dari sebuah mata air kecil yang muncul dari sebuah titik dari batang lidi yang ditancapkan di tanah. Tersebutlah seorang anak kecil bernama Baru Klinting yang merupakan anak dari Ki Hajar serta Nyai Selakanta. Setelah bertahun-tahun tidak dikaruniai anak, Nyai Selakanta pun hamil dan memiliki seorang anak berwujud Naga yang kemudian diberi nama Baru Klinting. Dengan wujudnya seperti itu, Baru Klinting pun menemui Ki Hajar yang tengah bertapa. Awalnya, Ki Hajar ragu mengenai status Baru Klinting sebagai anaknya, tetapi setelah Baru Klinting menunjukkan ‘pusaka’ Baru Klinting, barulah Ki Hajar percaya. Untuk menguatkan keyakinannya, Ki Hajar meminta agar Baru Klinting mengelilingi Telomoyo.

Singkat cerita, Baru Klinting berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Kemudian, Ki Hajar pun memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di Bukit Tugur untuk mendapatkan tubuh manusia. Di sinilah, kemudian terjadilah peristiwa tersebut. Tersebutlah sebuah desa yang ada di sekitar bukit Tugur tengah mengadakan bersih desa yang membuat penduduk tersebut membutuhkan buruan supaya bisa dimasak menjadi makanan enak. Setelah seharian berburu dan tidak mendapatkan apa pun, mereka pun menemukan seekor Naga yang tak lain adalah Baru Klinting. 

Orang-orang itu pun membunuh Baru Klinting dan memasak dagingnya. Kemudian setelah itu, seorang anak kecil yang merupakan perwujudan dari Baru Klinting pun muncul di desa tersebut untuk meminta sedikit sedekah dari penduduk di sekitar sana. Namun, bukannya memberi, mereka malah tidak memedulikannya. Dengan keangkuhan watak dan kesombongan mereka, Baru Klinting pun menantang penduduk desa untuk mencabut sebuah lidi yang ia tancapkan di tanah, tapi tak ada yang mampu. Kemudian, ia sendiri yang mencabutnya hingga sebuah banjir besar datang. Dalam peristiwa tersebut, Baru Klinting pun selamat bersama seorang Nenek Tua yang ia selamatkan. Akhirnya, Baru Klinting pun berubah kembali menjadi Naga dan menjaga Rawa Pening.

Legenda kurang lebih mengatakan demikian. Sampai sekarang, Rawa Pening masih terlihat biru dan luas. Keadaannya pun sejuk, karena daratan itu terletak di dekat gunung. Siapa pun yang ke sana pasti tidak akan menyesal pernah datang ke Rawa Pening.

Senin, 15 September 2014

'Monyet' pun Punya Rumah di Semarang

Posted by Dina Cahyaningtyas in ,




Hal pertama yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata Gua Kreo adalah... Monyet. Eh..., eh, saya tidak bermaksud untuk mengejek atau menghina, atau.. ehm... mengumpat. Tapi memang benar saya keingetan dengan monyet. Memang di wilayah sekitar Gua Kreo ini kita bisa menjumpai begitu banyak ratusan monyet yang sudah ada bahkan semenjak jaman para sunan.

Nama Kreo pada Gua Kreo memiliki arti ‘jagalah’ atau ‘peliharalah’ yang berasal dari kata mangreho. Hal ini tak bisa lepas dari Legenda mengenai Sunan Kalijaga dan para monyet yang ada di sana. Jadi ceritanya, pada waktu itu Sunan Kalijaga sedang mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Dalam perjalanan tersebut sang Sunan bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian beliau suruh untuk menjaga kayu jati yang dibawanya. Maka dari itulah, area tempat tersebut pun akhirnya menjadi bernama Gua Kreo.

Kawasan Wisata Goa Kreo Semarang ini berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Untuk mencapai mulut Gua, kita diharuskan melewati anak tangga yang cukup banyak dan curam. Selama di perjalanan menuju mulut gua, kita menikmati pemandangan indah di sekitar sekaligus bercanda dengan para monyet. (Iya, itu kalau memang bisa disebut bercanda). Di sini terdapat air terjun yang berasal dari berbagai sumber mata air yang jernih dan tidak kering meski musim kemarau panjang. 

Memang, monyet-monyet yang ada di Goa Kreo ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), monyet yang ada di sini termasuk monyet yang cukup jinak, dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo. Namun, tetaplah berhati-hati dengan mereka, terutama ketika mereka meminta makanan. Salah-salah, bisa-bisa barang-barang kita diambil oleh monyet-monyet ini. Sebaiknya saat bersiwata kemari, jangan mengenakan sesuatu yang terlalu mencolok, terutama perhiasan.

Selain menikmati keindahan alam serta berteman (iya kali berteman) dengan para monyet, kita bisa melihat seperti apa waduk jatibarang dari tempat tersebut. Waduk ini baru saja selesai dibangun dan bisa menjadi destinasi wisata baru yang bisa dikunjungi.

Kawasan Wisata Sidomukti

Posted by Dina Cahyaningtyas in ,

Beberapa tahun ini, sekitar tahun 2011 sampai sekarang, kawasan Sidomukti semakin dikenal sebagai tempat wisata pegunungan yang sangat bagus. Tak bisa dipungkiri, keindahan alam di pegunungan di desa Sidomukti memang benar-benar indah. Tak ada yang menampik pernyataan tersebut. Orang mengenal Sidomukti mungkin dengan nama lainnya juga, yaitu Umbul Sidomukti. Letaknya berada di desa Sidomukti kecamatan Bandungan, masuk ke kabupaten Semarang. Untuk mencapai tempat ini, kita haru berhati-hati dan piawai membawa kendaraan, karena jalan menuju ke sana agak sempit dan menanjak. Bus besar tidak bisa masuk, mini bus sendiri bisa tapi dengan sopir yang harus terampil.




Di Sidomukti ini, selain bisa menikmati pemandangan alam yang indah. Kita pun dimanjakan dengan banyak fasilitas-fasilitas permainan, seperti Flying fox yang menyeberangi lembah (lintasan Flying fox ini sekitar 110 meter), marine bride (meniti jembatan tali menyebrangi di lembah), ATV dan jalur trekking. Ada juga wisata kedai kopi dan Goa Tirta Murya, kemudian ada kolam renang serta kolam alam yang bisa dinikmati oleh pengunjung.

Taman renang di Umbul Sidomukti terletak di lereng gunung Ungaran dengan Ketinggian 1200 dpl serta diapit jurang di kedua sisinya. Hal itu sengaja dipilih karena keindahan panoramanya, kesegaran udar aserta airnya yang bening.  Lereng gunung Ungaran kaya akan mata air pegunungan yang selalu mengalir sepanjang tahun, salah satunya dari Tuk (mata air) Ngetihan, sehingga dipercaya dapat membuat awet muda. Di sini juga ada Vila yang bisa disediakan Villa bagi para pendatang, sehingga bisa beristirahat dengan nyaman di sana.


Tertarik datang ke sidomukti? Ayo datang dan nikmati keindahan alamnya! Siapa tahu, semua beban atau rasa tertekan jadi hilang setelah melihat keindahan alam di desa ini.

Jumat, 12 September 2014

Awul-awul

Posted by Dina Cahyaningtyas in ,


Kebanyakan warga sekarang pasti pernah mendengar dua kata ini, ‘Awul-awul’. Apa itu Awul-awul? Awul-awul sebenarnya sejenis dengan pasar murah atau pasar kaget. Keberadaannya tidak permanen, hanya ada sekitar sabtu malam sampai minggu pagi sekitar pukul 9. Dengan berakhirnya Car Free Day, biasanya awul-awul juga akan ikut tutup.

Dulu, sebelum simpang 5 diperbaiki dan diperindah, hampir setiap sabtu malam awul-awul diadakan di sana. Keadaan di sana pasti akan ramai dan macet. Namun, seiring waktu berjalan, terutama setelah kawasan simpang lima dibenahi, awul-awul pun dipindahkan ke sekitar stadion Dipenogoro.



Di awul-awul ini, kita bisa menemukan banyak barang-barang bekas dengan harga yang sangat murah, atau juga barang-barang baru dengan harga miring. Dari mulai yang branded, sampai yang tidak. Dari yang Rp 10.000 1, sampai yang Rp 10.000 3. Ada peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, pakaian, gerabah, bisa kita temukan di sini. Tetapi, sangat disarankan untuk teliti dalam membeli, terutama ketika membeli barang-barang yang bekas. Jangan sampai kita menyesal setelah membelinya.

(Foto dari berbagai sumber)
Copyright © Andre Derabal | Powered by Blogger