Kamis, 11 September 2014

Sam Poo Kong

Posted by Dina Cahyaningtyas in , ,

Berdirinya Klenteng Sam Poo Kong tidak bisa dipisahkan dari sejarah yang menceritakan mengenai kedatangan Laksamana Cheng Ho ke pesisir laut utara pulau Jawa, hingga tiba di daerah simongan, Semarang. Karena salah satu awak kapalnya sakit, Laksamana Cheng Ho akhirnya memutuskan untuk tinggal sementara di daerah Simongan tersebut. Di sana, sembari menunggu kesembuhan awak kapalnya, laksamana Cheng Ho pun menyebarkan agama islam di daerah Semarang.

Untuk memperingati pendaratan Zheng He / Cheng Ho, setiap tahunnya diadakan perayaan yang dimulai dengan upacara agama di kuil Tay Kak Sie, di Gang Lombok. Kemudian dilanjutkan mengarak patung Sam Po Kong di kuil Tay Kak Sie ke Gedong Batu (Klenteng Sam Poo Kong). Patung tersebut kemudian diletakkan berdampingan dengan patung Sam Po Kong yang asli di Gedong Batu.

Tradisi unik ini bermula sejak pertengahan kedua abad ke-19. Saat itu, kawasan Simongan dikuasai tuan tanah yang tamak. Jika hendak berkunjung ke kuil, mereka diharuskan membara uang yang cukup besar. Karena kebanyakan peziarah tak mampu membayar sesuai yang diminta si tuan tanah, maka mereka terpaksa mengalihkan peribadatan ke kuil Tay Kak Sie. Di sana, replika patung Sam Po Kong kemudian dibuat dan diletakkan di dalam kuil Tay Kak Sie. Setiap tanggal 29 atau 30 bulan keenam menurut penanggalan Imlek Cina, patung duplikat tersebut diarak dari Tay Kak Sie ke Gedong Batu yang dimaksudkan agar patung replika tersebut mendapat berkah dari patung asli yang berada di dalam kuil Gedong Batu.

Pada tahun 1879, kawasan Simongan dibeli oleh Oei Tjie Sien. Dia membebaskan lahan tersebut, sehingga para peziarah dapat bersembahyang di kuil Gedong Batu tanpa dipungut biaya apapun dan urusan pengurusan kuil diserahkan kepada Yayasan Sam Po Kong. Pawai Sam Po Kong itu dihidupkan kembali pada tahun 1937 dan terus menjadi daya tarik hingga sekarang.
Copyright © Andre Derabal | Powered by Blogger