Jumat, 12 September 2014

Awul-awul

Posted by Unknown in ,


Kebanyakan warga sekarang pasti pernah mendengar dua kata ini, ‘Awul-awul’. Apa itu Awul-awul? Awul-awul sebenarnya sejenis dengan pasar murah atau pasar kaget. Keberadaannya tidak permanen, hanya ada sekitar sabtu malam sampai minggu pagi sekitar pukul 9. Dengan berakhirnya Car Free Day, biasanya awul-awul juga akan ikut tutup.

Dulu, sebelum simpang 5 diperbaiki dan diperindah, hampir setiap sabtu malam awul-awul diadakan di sana. Keadaan di sana pasti akan ramai dan macet. Namun, seiring waktu berjalan, terutama setelah kawasan simpang lima dibenahi, awul-awul pun dipindahkan ke sekitar stadion Dipenogoro.



Di awul-awul ini, kita bisa menemukan banyak barang-barang bekas dengan harga yang sangat murah, atau juga barang-barang baru dengan harga miring. Dari mulai yang branded, sampai yang tidak. Dari yang Rp 10.000 1, sampai yang Rp 10.000 3. Ada peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, pakaian, gerabah, bisa kita temukan di sini. Tetapi, sangat disarankan untuk teliti dalam membeli, terutama ketika membeli barang-barang yang bekas. Jangan sampai kita menyesal setelah membelinya.

(Foto dari berbagai sumber)

Kampung Nasi

Posted by Unknown in ,

Siapa yang tidak suka nasi? Mayoritas masyarakat Indonesia merupakan pengonsumsi Nasi. Bahkan pada tahun 2013, setidaknya rata-rata beras yang dikonsumsi rakyat negeri ini sekitar 139 kilogram per kapita per tahun atau total 34,05 juta ton per tahun. Jumlah yang cukup besar, kan? Bermacam-macam olahan dari beras pun sangat banyak, ada yang jadi arem-arem, nasi goreng, aneka nasi mulai dari nasi uduk, nasi kuning, nasi bakar, dan lain-lain.

Cara memasak beras supaya menjadi berbagai macam olahan nasi pun bermacam-macam, beberapa dianggap juga agak merepotkan, seperti memasak nasi kuning misalnya. Jika takaran suatu bahan tidak tepat, nasi pun akan terasa tidak enak. Semisal memasak nasi uduk, jika kurang santan dan garam, maka rasanya juga akan hambar dan terasa kurang nikmat.

Karena itu, jika tidak ingin repot-repot memasak aneka macam nasi tersebut, tetapi sangat ingin memakannya, maka datang saja ke kampung nasi. Tempat makan yang bertempat di jalan erlangga raya ini menyediakan segala macam jenis nasi. Mulai dari nasi putih, nasi uduk, nasi kuning, sampai nasi bakar ada di sini. Ada paket murah meriah yang bisa kita coba dengan kisaran harga antara Rp 13.000 – Rp 17.000, itu sudah termasuk nasi + aneka macam lauk. Sangat mengenyangkan. Contohnya seperti nasi uduk Erlangga, harganya (jika memakai nasi uduk) Rp 17.000, sudah ada paha ayam bakar, telur rebus setengah, urab, acara mentimun, serta kering tempe basah, dan sambal.



Jika tidak ingin makan banyak-banyak, bisa pesang pula makanan dan lauk sendiri-sendiri. Harga-harga di sana bisa dikatakan murah, apalagi mengingat porsi makanan yang banyak. Bagaimana? Tertarik untuk makan di Kampung Nasi? Kalau ingin memesan untuk acara-acar kantor, kita pun bisa memesan nasi kotaknya di sini.

Kamis, 11 September 2014

Sam Poo Kong

Posted by Unknown in , ,

Berdirinya Klenteng Sam Poo Kong tidak bisa dipisahkan dari sejarah yang menceritakan mengenai kedatangan Laksamana Cheng Ho ke pesisir laut utara pulau Jawa, hingga tiba di daerah simongan, Semarang. Karena salah satu awak kapalnya sakit, Laksamana Cheng Ho akhirnya memutuskan untuk tinggal sementara di daerah Simongan tersebut. Di sana, sembari menunggu kesembuhan awak kapalnya, laksamana Cheng Ho pun menyebarkan agama islam di daerah Semarang.

Untuk memperingati pendaratan Zheng He / Cheng Ho, setiap tahunnya diadakan perayaan yang dimulai dengan upacara agama di kuil Tay Kak Sie, di Gang Lombok. Kemudian dilanjutkan mengarak patung Sam Po Kong di kuil Tay Kak Sie ke Gedong Batu (Klenteng Sam Poo Kong). Patung tersebut kemudian diletakkan berdampingan dengan patung Sam Po Kong yang asli di Gedong Batu.

Tradisi unik ini bermula sejak pertengahan kedua abad ke-19. Saat itu, kawasan Simongan dikuasai tuan tanah yang tamak. Jika hendak berkunjung ke kuil, mereka diharuskan membara uang yang cukup besar. Karena kebanyakan peziarah tak mampu membayar sesuai yang diminta si tuan tanah, maka mereka terpaksa mengalihkan peribadatan ke kuil Tay Kak Sie. Di sana, replika patung Sam Po Kong kemudian dibuat dan diletakkan di dalam kuil Tay Kak Sie. Setiap tanggal 29 atau 30 bulan keenam menurut penanggalan Imlek Cina, patung duplikat tersebut diarak dari Tay Kak Sie ke Gedong Batu yang dimaksudkan agar patung replika tersebut mendapat berkah dari patung asli yang berada di dalam kuil Gedong Batu.

Pada tahun 1879, kawasan Simongan dibeli oleh Oei Tjie Sien. Dia membebaskan lahan tersebut, sehingga para peziarah dapat bersembahyang di kuil Gedong Batu tanpa dipungut biaya apapun dan urusan pengurusan kuil diserahkan kepada Yayasan Sam Po Kong. Pawai Sam Po Kong itu dihidupkan kembali pada tahun 1937 dan terus menjadi daya tarik hingga sekarang.


Jalan-jalan di suatu kota, tidak lengkap rasanya kalau belum membeli penganan khas atau makanan oleh-oleh dari kota tersebut. Di Semarang, ada beberapa macam jenis makanan khas yang patut dicoba, yaitu bandeng presto, wingko babat, juga lumpianya. Jangan khawatir dan bingung untuk membeli semuanya.

Ada satu kawasan jalan di area Semarang kota yang menjadi kawasan pusat oleh-oleh dan selalu ramai didatangi oleh pembeli. Jalan itu bernama Jalan Pandanaran. Sebenarnya, jalan pandanaran cukup panjang, dari masjid baiturrahman sampai ke area tugu muda dan kawasan oleh-oleh ini bisa kita temui di area yang mengarah menuju tugu muda, tepatnya di lampu lalu lintas sebelum masuk area tugu muda.

Di sini, kita bisa menemukan berderet toko serta pedagang kaki lima yang menjajakan beragam macam oleh-oleh khas Semarang. Dari bandeng Juwana, lalu lumpia semarang, dan juga wingko babat. Harga bervariatif. Di sini ada juga toko pakaian busana muslim. Karena tempat ini selalu ramai dan jalan pun agak sempit, jangan heran kalau hampir setiap hari daerah ini dilanda macet, apalagi kalau jam sibuk di sekitar kawasan pertokoan. Hal itu dikarenakan, banyak mobil yang parkir di sana dan ada juga yang keluar-masuk area tersebut.

Tertarik mencicipi bandeng presto?

Rabu, 10 September 2014



Masjid Kauman merupakan salah satu bukti peninggalan kebudayaan islam di Semarang. Masjid ini terletak di dekat pasar Johar, berada di kawasan Kauman dan dekat pula dengan kawasan pecinan. Bangunan ibadah ini didirikan sekitar abad 16 Masehi oleh Kiai Ageng Pandanaran.

Masjid Kauman sudah berkali-kali mengalami renovasi. Kiai Adipati Surohadimenggolo III, sebagai Bupati Semarang kala itu, memperluas Masjid itu pada tahun 1759-1760. Pembangunan perluasan Masjid ditandai dengan tiga buah inskripsi yang kini masih tertempel di gapura utama masjid yang bertuliskan huruf Jawa, Latin, dan Arab. Tulisannya bahkan masih sangat jelas terbaca walaupun sudah usang dimakan usia.

Masjid kembali direnovasi saat RM Tumenggung Ario Purboningrat berkuasa pada 1867. Lalu, direnovasi lagi pada tanggan 23 April 1889 oleh Asisten Residen Semarang GI Blume dan Bupati R Tumenggung Cokrodipuro. Seorang arsitek berkebangsaan Belanda bernama GA Gambier dipercaya untuk merenovasi Masjid tersebut. Meskipun sekarang telah dibangun MAJT (Masjid Agung Jaw tengah) yang lebih besar dan megah, keberadaan Masjid Kauman tetap dipertahankan. Sampai sekarang, Masjid Kauman tetap dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan tradisi Dugderan yang merupakan peringatan awal bulan Ramadan. Sebuah tradisi yang dilakukan secara turun-temurun sejak dahulu kala. 



Masjid Agung Jawa Tengah merupakan Masjid terbesar yang ada di Jawa Tengah. Masjid ini terletak di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Masjid, yang dibangun pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006 itu, memiliki luas sekitar 10 hektar dan dibangun dengan sangat megah. Ada setidaknya 6 payung hidrolik di pelataran MAJT yang mirip seperti payung-payung besar di masjid Nabawi.

Secara arsitektur, Masjid agung Jawa Tengah memadukan 3 unsur kebudayaan, yaitu Jawa, Arab, dan Roma. Gaya arsitektur jawa bisa dilihat dari bagian dasar tiang masjid yang menggunakan motif batik seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan. Untuk gaya arsitektur Timur Tengah, terihat pada dinding masjid dinding masjid yang berhiaskan kaligrafi. Dari desain interior, lapisan warna yang melekat pada sudut-sudut bangunan, dan pilar-pilar berwarna ungu yang bertuliskan kaligrafi arab (mirip seperti bangunan coloseum) merupakan pengaruh dari gaya Arsitektur Roma.


Selain Masjid, di kompleks MAJT juga terdapat beberapa bangunan lain seperti convention hall, kios suvenir, kios makanan, gedung perkantoran, perpustakaan, hotel, hingga menara pandang. Ada juga restoran putar di Menara Pandang yang memiliki nama menara Al-Husna ini. Menara Al-Husna berada di ketinggian 99 meter dan menjadi perlambang dari kebesaran serta kemahakuasaan Allah. Di puncak Menara disediakan teropong yang berguna untuk melihat ke area sekeliling area Semarang. Dari sana, kita bisa melihat indahnya kota Semarang.

Untuk masuk ke area MAJT, kita tidak dipungut biaya, kecuali biaya parkir saja. Namun, jika ingin memasuki area lain seperti Menara Al-Husna setidaknya kita harus membayar Rp 3.000 per orang untuk jam kunjungan antara pukul 08.00 - 17.30 WIB. Dan bila datang pada jam 17.30 - 21.00 WIB tarif tersebut berubah menjadi Rp 4.000 per orang. Bagi yang ingin menggunakan teropong di Menara Asmaul Husna, maka harus mengeluarkan ongkos tambahan sebesar Rp 500,- per menit.

Ayo kunjungi MAJT. Sambil beribadah, kita bisa berjalan-jalan pula.

Selasa, 09 September 2014

Anak muda mana yang tidak suka nongkrong? Kebanyakan dari para remaja, atau bahkan mungkin orang-orang dewasa pasti suka nongkrong. Yah, ada kemungkinan juga yang tidak suka nongkrong sih, mungkin menganggapnya buang-buang waktu, tapi... sebagian besar orang senang nongkrong. Berkumpul, bertukar cerita, atau sekedar melihat jalanan saja.



Simpang lima dan kawasan Jalan Pahlawan merupakan area yang cocok untuk nongkrong. Sepanjang jalan Pahlawan merupakan tempat yang ramai dengan pengunjung hanya untuk sekedar berkumpul dan berbincang saja. Tempat ini memang dipersiapkan sebagai tempat nongkrong, sih. Di area ini, kita tidak akan menemukan pedagang kaki lima, melainkan pedagang asongan yang menjajakan berbagai penganan ringan. Dari mulai jagung rebus, kacang rebus, jagung serut, minuman panas, sampai minuman dingin juga ada. Jadi, tidak perlu khawatir kalau banyak bicara di sana, banyak pedagang minuman keliling yang siap sedia menawarkan minuman kalau kita kehausan.

Untuk di area simpang lima sendiri, tempat berkumpul menjadi dua, yaitu lapangan simpang lima serta area kulineran yang ada di pinggir jalan raya. Setelah maghrib, biasanya banyak pedagang kaki lima yang buka dan bisa menjadi destinasi wisata kuliner. Ada berbagai macam makanan yang bisa dipilih di daerah itu. Dan kalau hanya ingin sekedar bermain sepeda atau berkumpul bersama kawan-kawan, bisa dipilih jalan pahlawan atau lapangan simpang lima.

Oh, ya, keramaian kedua kawasan ini dimulai setelah maghrib. Sebelum maghrib, jangan coba-coba untuk memarkir kendaran di sepanjang simpang lima atau jalan pahlawan, bisa-bisa kena tilang. Hati-hati juga sewaktu melewati jalan itu saat malam karena di sana keadaannya cukup ramai.
Copyright © Andre Derabal | Powered by Blogger